Senin, 25 April 2011

Apa itu Kalibrasi?

Pada proses pengukuran, karena faktor umur instrument, ketegangan fisik atau berubah-ubahnya temperatur, kinerja kritis instrument secara bertahap menjadi berkurang (drift). Sebagai akibatnya, hasil pengukuran menjadi tidak dapat diandalkan dan akhirnya kualitas produksi menjadi jelek. Drift tidak bisa dihilangkan, tapi bisa pulihkan dengan kalibrasi.

Kalibrasi merupakan perbandingan kinerja instrumen dengan suatu standar akurat telah spakati. Apa itu kalibrasi? Kalibrasi menjamin bahwa pengukuran yang akurat dan dalam batas spesifikasi yang disyaratkan dari instrumen proses. Kalibrasi secara singkat dapat digambarkan sebagai suatu aktivitas pengujian instrumen dengan cara membandingkan hasil penujukkan instrument tersebut dengan nilai/referensi yang telah diketahui. Referensi merupakan nilai acuan /nilai pembanding yang standarnya sudah ditetapkan.
Mengapa kalibrasi penting? Alasan utama untuk kalibrasi adalah bahwa instrumen yang paling baikpun juga mengalami drift serta akan kehilangan kemampuan untuk memberikan pengukuran yang akurat. Drift Hal ini membuat kalibrasi yang diperlukan.
Alasan khusus untuk kalibrasi meliputi:
  • Untuk menjaga mutu kualitas produk tinggi dan berkelanjutan
  • Peraturan Industri / sistem mutu menuntut kalibrasi
  • Mengoptimalkan proses dan meningkatkan kapasitas
  • Alasan keamanan (safety)
  • Periksa kualitas pengukuran
  • Langsung manfaat ekonomi (misalnya dari penagihan yang tepat)
  • Mengontrol emisi
Konsekuensi dari kalibrasi memang membutuhkan pengeluaran keuangan yang tinggi. Namun mengabaikan kalibrasi dapat menyebabkan beberapa hal:
  • Mempercepat downtime produksi dari yang sudah terjadwal,
  • Masalah kualitas dan komplain produk .
  • Mempertaruhkan keselamatan karyawan.
  • Mempertaruhkan pelanggan / keselamatan konsumen.
  • Kehilangan lisensi untuk beroperasi karena tidak memenuhi persyaratan peraturan.
  • Kerugian ekonomi langsung di bisnis di mana faktur didasarkan pada proses pengukuran (misalnya industri energi).
Seberapa sering instrument dikalibrasi?
Setelah jangka waktu tertentu, instrumen drift dan tidak dapat lagi memberikan hasil pengukuran yang akurat. Untuk mengatasi masalah ini, instrumen harus dikalibrasi secara berkala. Tapi seberapa sering?
Interval kalibrasi dapat ditentukan oleh:
  1. Setelah's rekomendasi produsen
  2. Menurut kekritisan dari instrumen
  3. Pedoman standar kualitas (misalnya ISO)
  4. Berdasarkan analisis riwayat tren (misalnya menggunakan fungsi yang dalam software kalibrasi)
Teknik kalibrasi yang paling sederhana untuk instrumentasi arus searah adalah dengan menerapkan menggunakan bantuan analisis hukum ohm. Kalibrasi ammeter arus searah dapat dilakukan dengan metode potensiometer. Dengan mengukur nilai tegangan pada ujung-ujung resistor tetap qualitas tinggi, ketelitian ammeter dapat diketahui dan diatur dengan membandigkan hasil perhitungan arus pada ujung-ujung resistor tetap qualitas tinggi terhadap nilai arus yang ditampilkan ammeter (perhatikan Gambar 1). 
Gambar 1 Kalibrasi Ammeter
Vs adalah sebuah catu daya yang presisi sebagai sumbar arus konstan. Vr merupakan sebuah tahanan geser yang dihubungkan seri kedalam rangkaian berfungsi untuk mengontrol arus pada harga yang diinginkan sehingga titik-titik skala yang berbeda pada skala dapat dikalibrasi. Vr = 50kOhm & R1 = 100Ohm.

Gambar 2. Kalibrasi Voltmeter
Suatu cara yang sederhana pula dapat diterapkan untuk mengkalibrasi voltmeter arus searah,  (Gambar 2). Tegangan pada tahanan R1 Dropping resistor, diukur dengan cermat menggunakan sebuh potensio meter. Voltmeter yang akan dikalibrasi dihubungkan ke titik-titik yang sama pada potensiometer yang berarti akan menunjukkan tegangan yang sama. Potensiometer Vr dihubungkan ke dalam rangkaian untuk mengontrol banyaknya arus dan dengan demikian mengontrol penurunan tegangan pada tahanan R1, sehingga bebebrapa titik skala dapat dikalibrasi. Dengan metode ini voltmeter dapat dikalibrasi dengan ketelitian sampai 0.01% yang melebihi ketelitian gerak d'arsonval biasa.

Ohmeter umumnya dipandang sebagai instrument dengan ketelitian sedang serta presisi yang rendah. Kalibrasi secara kasar dapat dilakukan dengan menggunakan sebuah tahanan standard dan mencatat pembacaan ohmmeter tersebut. Dengan melakukan hal tersebut pada titik skala dan pada beberapa rangkuman memungkinkan untuk diperoleh penunjukan instrument dengan operasi yang betul. Pengukuran presisi untuk tahanan biasanya dilakukan oleh salah satu metode rangkaian jembatan yang akan dibahas lebih jelas pada bab selanjutnya, insyaAlloh :)

Minggu, 24 April 2011

Pengertian One Line Diagram?

Diagram satu garis (one line diagram) sering juga disebut dengan single line diagram. Saluran transmisi khususnya transmisi listrik arus bolak-balik AC, pada umumnya adalah saluran transmisi tiga fase. Saluran transmisi tersebut menyalurkan tenaga listrik dari pusat-pusat listrik ke pusat-pusat beban yang akan membentuk suatu jaringan interkoneksi yang rumit. Dalam proses perhitungan-perhitungan/ analisa sistem tenaga listrik, terdapat tiga cara untuk mempresentasikannya; Diagram satu garis (single line diagram), Diagram impedans ekulivalen tiga fase (three phase equivalent impedance diagram) dan diagram impedans ekulivalen per fase (equivalent impedance diagram per phase).

Akan tetapi pemakaian diagram impedans ekulivalen tiga fase e hampir tidak pernah digunakan. Hal ini karena pada sistem tenaga listrik tiga fase seimbang dapat selalu diwakili dengan diagram impedans ekivalen per fase. Impedans ekivalen per pase sendiri dapat pula disederhanakan dengan mengabaikan saluran netral dan merepresentasikan komponen-komponennya dengan simbol-simbol standar berdasarkan rangkaian pada diagram sehingga terlihatlah diagram menjadi diagram satu garis (one line diagram).

Tabel 2.1 menunjukkan beberapa simbol yang biasa dipakai dalam sistem tenaga lsitrik. Kadang kala untuk kepentingan khusus pada diagram satu garis sistem tenaga, kemungkinan juga akan terlihat beberapa peralatan/perlengkapan seperti trafo instrumen (C.T, V.T), Relai-relai pengaman atau juga lighting arrester. Oleh karena itu detail suatu diagram satu garis tergantung pada kepentingan/tujuannya. Sebagai contoh diagram satu garis yang akan digunakan untuk studi aliran beban (load flow study), maka pada diagram satu garis tidak akan dilihat perlengkapan pengaman seperti circuit breaker (CB) ataupun relai-relai akan tetapi sebaliknya untuk studi stabilitas sistem (power system stability studies), maka akan dijumpai beberapa perlengkapan-peralatan tambahan seperti pengaman, C.B serta relai-relai. Lebih jauh apabila digunakan untuk studi gangguan tidak simetis (unsymmetrical fault studies) kemungkinan akan diperlihatkan jaringan urutan nol, urutan positif atau urutan negatif yang terpisah.


Untuk jalur-jalur/ rel bus, dapat diketahui dengan pemberian nomor pada masing-masing bus. Catatan juga bahwa sistem pentanahan terkadang dicantumkan. Seperti gambar 2.3 pada generator G1 sistem pentanahannya menerapkan sistem pentanahan langsung (solidly grounded) yang berarti titik netral hubungkan langsung ke tanah, sedangkan netral generator G2 dihubungkan ke tanah melalui impedans (grounded trough impedance) menggunakan sebuah tahanan. Kadang-kadang selain menggunakan tahanan juga digunakan pula lilitan induktif. Dalam kasus tersebut sistem pentanahan digunakan untuk membatasi arus yang mengalir ke tanah manakala terjadi gangguan hubung singkat ke tanah. Biasanya trafo-trafo yang digunakan untuk transmisi adalah menggunakan pentanahan solidly grounded.

Batasan Tegangan Saluran Transmisi

Sistem tenaga listrik mencakupi pusat-pusat tenaga listrik, sistem transmisi dan distribusi serta beban. Transmisi dan sistem distribusi merupakan bagian penting penghubung antara pusat-pusat tenaga listrik dengan pusat-pusat beban. Pusat tenaga listrik umumnya terletak dekat dengan sumber energy primer atau akses untuk mendapatkan sumber energi primer tersebut mudah sehingga biaya untuk menghasilkan listrik menjadi ekonomis. Oleh karena itu, dalam praktiknya akan didapatkan bahwa pusat-pusat pembangkit terletak dipinggir-pinggir pantai (PLTG/U) atau didekat danau-danau (PLTA) dan jauh dari pusat-pusat beban/daerah padat penduduk. daya tersebut kemudian diteruskan ke beban dengan jalur transmisi dan jaringan distribusi.

Saluran transmisi dibangun untuk suatu jaringan listrik tegangan tinggi, umumnya 110-765 kV. Semakin tinggi level tegangan saluran transmisi, maka semakin rendah rugi-rugi/hilangnya daya pada transmisi. Level tegangan saluran transmisi dibatasi oleh kemampuan perlengkapan isolasi dan pengaman.

Standar tegangan transmisi garis tergantung pada negara dan perusahaan kelistrikan masing-masing, umumnya adalah: 765, 550, 500, 400, 345, 275, 230, 169, 150, 145, 132, 110, 70, 66, 33 kV. Tegangan di kisaran 345-765 kV diklasifikasikan sebagai tegangan ekstra tinggi/ extra high voltage (EHV). Tegangan di atas 765 kV dianggap sebagai ultra tegangan tinggi / ultra high voltage (UHV). Saat ini, sistem UHV yang dikembangkan adalah, level tegangan 1000, 1500, 2250kV semuannya masih dalam tahap penelitian. Tingkat tegangan yang digunakan untuk transmisi tenaga arus searah / high voltage direct current (HVDC)* adalah: 250 kV, 400 kV, 500 kV dan 550 kV. Tegangan DC level yang lebih tinggi sedang direncanakan.

Sistem Distribusi adalah bagian yang menghubungkan antara sistem transmisi dan beban. Investasi utama dalam sistem tenaga berada pada sektor pembangkit, kemudian sistem distribusi. Hal ini karena beban pemeliharaan dan operasi besar berada pada sektor pembangkit, kemudian sektor distribusi. Dengan demikian kepentingan ekonomi dari sistem distribusi yang sangat tinggi. Selanjutnya, sistem distribusi yang dekat dengan konsumen, memainkan peran penting dalam memberikan kualitas yang baik dan pasokan biaya listrik yang efektif. Dengan demikian, pentingnya ekonomis dan teknis dari sistem distribusi menentukan perencanaan yang matang, desain, konstruksi, dan pengoperasiannya. Tegangan tingkat sistem distribusi adalah: 20kV, 11kV, 6,6 kV, 4,16 kV, 415/400 V 240/230 V dan di Amerika Serikat menggunakan tegangan 110 V untuk fase tunggal.

• Point to point transmisi, beberapa waktu, disukai oleh HVDC

Senin, 28 Maret 2011

Apa bedanya emf dan EMF?

Dalam  membaca-baca tentang medan magnet atau mesin listrik baik mesin DC maupun mesin AC kita sering menjumpai tulisan berupa emf  dan EMF. Sebenarnya apa sih emf itu dan juga EMF, apakah cuma beda bentuk tulisannya saja atau memang ada arti lain yang berbeda antara emf dan EMF?

ni jawabnya
 Ternyata emf adalah singkatan dari electromotive force atau dalam istilah bahasa Indonesia sering disebut sebagai ggl (gerak gaya listrik). Oleh karena itu sebenarnya emf adalah yang menyebabkan elektron dan ion-ion bisa mengalir (bisa menyebabkan adanya arus listrik).
Sedangkan,
EMF adalah singkatan dari electromagnetic field atau medan elektromagnetik, merupakan medan magnet yang dihasilkan oleh benda-benda bermuatan listrik. EMF akan mempengaruhi perilaku benda yang dikenakan di sekitar medan. intinya emf dan EMF adalah BERBEDA, jd jangan salah ya heheh untuk lebih jelasnya silahkan baca2 tentang teori medan magnet, persamaan maxwell dan gaya lorentz, :).

Kamis, 27 Januari 2011

MCB (Miniature Circuit Breaker)


Fungsi MCB:
MCB didisain, dengan fungsi utama:
-          Mengamankan penghantar (kabel) dari arus beban lebih dan arus hubung singkat.
-          Melewatkan arus tanpa pemanasan lebih.
-          Membuka dan menutup sebuah sirkit di bawah arus pengenal
-          Pengaman terhadap kerusakan (gagal) isolator

Jumat, 21 Januari 2011

Kenapa Papan Skala Ohmmeter Tidak Linier?


Perlu diketahui bahwa sebenarnya prinsip sebuah ohmmeter adalah mengukur arus listrik, yang mana untuk mendapatkan arus listrik tersebut di dalam ohmmeter dipasang sumber tegangan konstans (batrai).

Nah, dikarenakan sumber tegangan ohmmeter yg konstan tersebut, hubungan resistor terhadap arus menjadi tidak linier, maka oleh sebab itulah papan skala ohmmeter dibuat tidak linier!

Misal
Battre multi = 10V
R : 1    2    3    4    5    6     7    8     9   10
I : 10   5   3.3  2.5   2   1.6   1.4  1.2   1.1  1
(arusnya tidak linier khan!)

lha kalo papan skalanya dibuat linier, hasil pengukurannya malah  menjadi keliru alias salah kaprah heheeh.....

Rabu, 29 Desember 2010

Electronic Load Controller Untuk PLTMh

Abstrak
Sebagai pengganti governor dalam upaya menjaga mutu/kualitas daya listrik sistem PLTMh, dua dekade terakhir ini mulai dikembangkan beberapa alat Pengatur Beban Elektronis (Electronic Load Controllers). Pada sistem PLTMh, Electronic Load Controller (ELC) merupakan alat untuk mengatur keseimbangan beban utama dan ballast load yang diharapkan sistem PLTMh tersebut bisa selalu terjaga pada kondisi beban relatif konstan. Dengan mengoperasikan sistem PLTMh pada beban relatif konstan, maka akan membuat generator berputar pada putaran yang relatif konstan pula, sehingga dengan demikian tegangan dan frekuensi sistem pun akan ikut konstan tidak terpengaruh oleh perubahan pemakaian beban utama yang kondisinya tidak menentu. Mikrokontroler AT89S51 yang merupakan keluarga MCS-51 mempunyai aplikasi yang sangat luas. Dengan memanfaatkan mikrokontroler AT89S51 sebagai pengendali utama (main controller) ELC, maka rangkaian ELC menjadi cukup sederhana. AT89S51 yang diaplikasikan sebagai pencacah siklus listrik sistem, mikrokontroler cukup membutuhkan tambahan rangkaian Zero Crossing Detector sebagai pengubah isyarat sinusiodal menjadi persegi dan Thyristor atau Kontaktor sebagai komponen switching ballast load. ELC mampu mengendalikan ballast load sesuai dengan kapasitas sistem PLTMh dengan menggunakan komponen switching yang sesuai. Sebagai sebuah penenelitian, maka dalam pembuatan pengatur beban elektronis ini, ELC adalah ELC 1 fase dan hanya berkapasitas 5 kW

 Kata kunci: PLTMh, ELC, Ballast load

1. Pendahuluan
Disaat hangat-hangatnya isu berkenaan dengan krisis energi listrik nasional, global warming dan climate changes sekarang ini, keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) sepertinya menjadi salah satu solusi alternatif dari beberapa solusi yang ada. Terutama untuk daerah-daerah yang masih disuplai dengan listrik tenaga diesel dan lebih khusus untuk desa/daerah-daerah terpencil yang belum mendapat pelayanan aliran listrik karena sulit dicapai oleh jaringan listrik yang pembangkitnya berada jauh dari pedesaan (remote area). Didukung dengan potensi kelistrikan tenaga air di Nusantara yang mencapai 72.000 MW, 10 persennya atau 7.500 MW, dapat dimanfaatkan untuk sistem PLTMh [6]. Sistem PLTMh yang sudah terkenal ramah lingkungan, kemampuan menghasilkan listrik yang kontinyu (siang-malam) dan juga ketersediaan teknologi yang terjamin serta kokoh mampu berumur 20 sampai 30 tahun, sangat menarik sebagai sumber energi listrik mandiri terbarukan [1]
Sayangnya dari beberapa kelebihan yang dimiliki sistem PLTMh tersebut, sampai sekarang ini teknologi PLTMh di masyarakat masih kurang familier, sehingga pertumbuhannya pun menjadi lambat. Dari potensi kelistrikan tenaga air di Indonesia yang mencapai 75.000 MW tersebut, pada pertengahan tahun 2008 ini, baru terdapat sekitar 60 unit sistem PLTMh yang tersebar di 60 wilayah Indonesia [6]. Terlebih lagi pembangunan sistem PLTMh yang sudah dilakukan, masih sering mengabaikan mutu/kualitas daya listrik (power quality) yang dihasilkannya. Mutu/kualitas daya listrik yang biasanya dikaitkan dengan perubahan tegangan, frekuensi dan pergeseran fase jika PLTMh merupakan sistem tiga fase sangat penting untuk diperhatikan. Kualitas daya listrik yang jelek secara signifikan akan berdampak pada umur/usia peralatan, baik peralatan beban sistem maupun peralatan (komponen) sistem PLTMh itu sendiri [1].

Teknik yang digunakan untuk menjaga kualitas daya listrik setiap sistem pembangkit berbeda-beda, dan demikian pula dengan sistem PLTMh. Pada sistem PLTMh tidak menggunakan governor (pengatur kecepatan putaran turbin/penggerak mula) yang digunakan untuk menyesuaikan atau menyeimbangkan energi pada penggerak mula dengan kebutuhan pemakaian beban konsumen. Teknik yang digunakan pada sistem PLTMh adalah dengan menerapkan sistem selalu beroperasi mendekati beban penuh (putaran konstan). Metode ini dilakukan dengan cara memasang beban tiruan resistif (ballast loads atau dummy loads) pada sistem. Balast loads diatur secara otomatis sebagai kompensasi perubahan beban utama sistem, sehingga total beban sistem tetap mendekati beban penuh (putaran konstan). Untuk mengatur ballast loads bisa bekerja otomatis, pada sistem PLTMh yang menggunakan generator induksi digunakan induction generator controller (IGC), sedangkan pada sistem PLTMh yang menggunakan generator sinkron digunakan electronic load controller [7].

Untuk sekarang ini seiring dengan pertumbuhan sistem PLTMh di berbagai negara (terutama negara-negara berkembang), generator sinkron dengan kapasitas kecil mulai banyak diproduksi dan tersedia di pasaran, sehingga sedikit demi sedikit pembangunan PLTMh yang tadinya memakai generator induksi kini mulai beralih menggunakan generator sinkron. Hanya saja sistem PLTMh yang menggunakan generator sinkron masih memiliki kelemahan ketika terjadi perubahan pembebanan, pemulihan perubahan frekuensi keluaran ke frekuensi nominal agak tertunda (terlambat) dibandingkan dengan pemulihan tegangannya. Hal ini karena perbaikan tegangan pada generator sinkron yang dilakukan oleh automatic voltage regulator (AVR) bersifat elektris, sedangkan untuk pemulihan frekuensi keluarannya bersifat mekanis (berkaitan dengan putaran). Oleh karena itu aplikasi ballast loads dengan kapasitas kecil (kurang dari 10 kW) diperlukan berikut dengan alat pengaturnya, ELC.

2. Perancangan ELC
Prinsip kerja pengatur beban elektronis (electronic load controller, ELC) ini adalah ELC akan memonitor frekuensi sistem secara terus menerus. Frekuensi hasil monitor akan dibandingkan dengan frekuensi offset (nilai frekuensi yang sudah ditentukan sebelumnya sesuai dengan nilai toleransi yang diijinkan). Hasil dari perbandingan digunakan untuk mengatur besar-kecilnya ballast loads secara otomatis yakni dengan cara menambah atau mengurangi ballast loads sebagai kompensasi beban utama yang pemakaiannya tidak menentu, sehingga diharapkan total beban generator PLTMh akan terjaga pada beban aman dan putaran generator menjadi relatif mendekati putaran konstan.
2.1. Perangkat Lunak ELC
Sebagaimana diperlihatkan pada Gbr.1, ELC terdiri atas beberapa blok.
A. Zero Crossig Detector
Secara sederhana Zero Crossing Detector (ZCD) didefinisikan sebagai rangkaian elektronik untuk mengubah sinyal sinusiodal menjadi persegi.
Rangkaian Zero Crossing Detector Gbr.2 diperlukan, karena mikrokontroler sebagai pengendali utama ELC hanya bisa membaca sinyal tinggi dan rendah (persegi). Oleh karena itu sumber sinyal masukan dari saluran jala-jala yang berupa sinyal sinus harus diubah menjadi sinyal persegi.
B. Pengendali Utama
Pengendali utama yang merupakan otak ELC memanfaatkan sebuah IC mikrokontroler AT89S51. Mikrokontroler diprogram untuk mengatur beban ballast loads secara otomatis berdasarkan perubahan frekuensi saluran yang dirasakannya. Adapun diagram alur yang dirancang pada pengendali utama adalah sebagai berikut :

C.Switching
Triac merupakan keluarga thyristor, yakni suatu devais yang berisi dua buah SCR yang dirangkai anti parallel. Triac mampu mengontol listrik AC gelombang penuh tanpa membutuhkan banyak komponen tambahan. Dibandingkan kontaktor, mengaplikasikan Triac sebagai komponen switching ballast loads, maka rangkaian rangkaian switching menjadi sederhana, no noise dan lebih ekonomis.

Cukup memakai empat buah Triac, maka ELC bisa dioperasikan untuk mengendalikan ballast loads sebesar kapasitas nominal generator PLTMh yakni dengan load 1 = 10 %, load 2 = 20 %, load 3 = 30 % dan load 4 = 50 % dari kapasitas nominal generator. Total kemampuan rangkain switching Gbr.4 adalah 5 kW.
Triac T10 % adalah Triac dengan seri Q4004 dimana memiliki tegangan dan arus nominal 400V/4A sehingga untuk dioperasikan pada ballast loads 10 % (500 W) akan aman. Pada T20 % dan T30 % dipilih Triac dengan seri BT137 dimana memiliki tegangan dan arus nominal 600V/8A sehingga untuk menanggung ballast loads 20 % dan 30 % (1 kW dan 1.5 kW), Triac masih mampu. T50 % digunakan Triac dengan seri BT139 dimana memiliki tegangan dan arus nominal 600V/16A sehingga untuk menanggung ballast loads (2.5 kW) juga aman. Keempat Triac tersebut diatur konduksinya oleh port keluaran mikrokontroler (P1.0, P1.1, P1.2, P1.3) yang masing-masing melalui IC Optoisolator MOC3020. IC MOC2030 dipilih karena selain keluarannya sebagai driver Triac, IC MOC3020 juga sebagai pengisolasi mikrokontroler dari tegangan jala-jala. Sehingga walaupun mikrokontroler digunakan untuk mengontrol tegangan AC 220 V, mikrokontroler tetap aman.
D. Indikator Frekuensi
Sebagai tanda pengaman untuk mengetahui PLTMh terbebani lebih (overload) atau beban lepas (loss of load), maka pada ELC dilengkapi dengan lampu indikator under/over frekuensi.

Lampu indikator frekuensi under/over Gbr.5 memakai lampu LED 12 mm. LED-LED tersebut diaktifkan melalui Q2 dan Q3 transistor PNP 9012 yang difungsikan sebagai saklar. LED akan menyala dengan memberikan bias tegangan kurang lebih sebesar 2 V dan arus sekitar 7 mA pada kaki anoda-katoda, serta kaki basis Q2 dan Q3 diberi bias rendah (low). R1 dan R3 berfungsi untuk membatasi arus LED.
E. Catudaya
Agar semua rangkaian pada alat yang dirancang bisa bekerja dengan baik maka diperlukan suplai catudaya yang baik sesuai dengan kebutuhan atau karakteristik masing-masing komponen. Untuk pengontrol utama IC AT89S51 membutuhkan supali catu daya DC +5 Volt, sedangkan IC OpAmp LM111 dan LM741 pada rangkaian ZCD membutuhkan suplai catudaya DC ganda ± 15 Volt, dan oleh karena itu diperlukan rangkaian catudaya tunggal dan ganda.

3. Hasil Pengujian




4. Ucapan Terima Kasih
Terima kasih disampaikan Bpk. M. Isnaeni dan Bpk. Sujoko Sumaryono selaku dosen pembimbing serta kepada sahabat Athhar Arrosyad yang telah berbagi ilmu mikrokontroler dan sahabat-sahabat KOMUNIKE yang telah banyak men-support dalam menyelesaikan penelitian ini.

5. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengujian di laboratorium dan pembahasan hasil penelitian dapat diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Aplikasi ballast loads dengan menggunakan alat pengatur beban elektronis (Electronic Loads Controller) yang terdiri atas tiga rangkaian utama: Zero Crossing Detector, Pengandali utama (Main Controller) dan Switching, dapat digunakan untuk menjadikan mutu/kualitas daya listrik sistem PLTMh lebih baik.
2. Selain frekuensi sistem menjadi relatif konstan, implementasi ballast load dan ELC pada sistem PLTMh dapat pula turut menjaga bahaya kenaikan tegangan sistem akibat beban ringan (underloads) ataupun saat beban lepas (no load/loss of load).
6. Referensi
[1] Fritz, J. Jack., “Small and Mini Hydropower System,” McGraw-Hill, New York, 1984.
[2] Malvino, Paul Albert., ”Prinsip-prinsip Elektronis,” Erlangga, Jakarta, 1996.
[3] Nalwan, Andi P., “Panduan Praktis Teknik Antarmuka dan Pemrograman Mikrokontroler AT89C51,” Elex Media Komputindo, Jakarta, 2003.
[4] Putra, Eko Agfianto., “Belajar Mikrokontroler AT89C51/52/55 (Teori dan Aplikasi). Edisi kedua,” Gava Media, Yogyakarta, 2004.
[5] http://epsdin.wordpress.com/2008/04/15/membangun-kemandirian-masyarakat-dan-bangsa-melalui-PLTMh/ (diakses, 27/08/2008)
[6] http://energialternatif.ekon.go.id (diakses, 27/08/2008)
[7] http://www.oregon.gov/ENERGY/RENEW/Hydro/docs/MicroHydroGuide.pdf (diakses, 23/01/2008)
[8] www.smartdraw.com/tutorials/flowcharts/tutorial_02.htm (diakses, 22/08/2008)